Seks Pranikah? "No Way"!
Di dalam suasana kebebasan informasi seperti yang kita alami sekarang ini, di antara kita dapat dipastikan sudah pernah atau bahkan sering mendengar istilah pergaulan bebas, seks bebas, seks pranikah, hamil di luar nikah, aborsi, dan lain-lain. Informasi semacam itu, misalnya, bisa kita dapatkan di media massa dan lainnya.
Istilah-istilah tersebut juga rasanya akrab di telinga kita karena yang demikian tidak jarang juga terjadi di lingkungan kita. Kita yang masih remaja ini memang menjadi perhatian banyak pihak. Tapi, jeleknya kadang kita hanya dijadikan obyek saja. Dan kita sendiri pun kadang kurang waspada terhadap informasi yang kita terima. Apakah itu informasi yang positif bagi kita atau justru informasi yang bakal menjerumuskan kita. Dalam kondisi seperti itu, udah barang tentu kita enggak bisa hanya menyalahkan lingkungan sosial kita. Yang lebih dibutuhkan enggak lain adalah sikap waspada dari kita sendiri untuk tidak terpengaruh dengan informasi yang negatif tersebut.
Banyak faktor
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya aktivitas seks pranikah. Ada yang bisa kita kategorikan sebagai faktor internal, yaitu karena hal-hal yang datang dari dalam, tetapi juga ada faktor eksternal, yaitu dari luar diri yang bersangkutan. Faktor luar, misalnya, karena pengaruh berbagai informasi yang salah dan bahkan dapat menyesatkan berkenaan dengan kesehatan reproduksi dan seksual. Biasanya informasi itu diperoleh dari teman yang tidak memiliki pemahaman yang benar tentang kesehatan reproduksi dan seksual. Juga bisa diperoleh dari berbagai media seperti VCD ataupun buku-buku yang dikategorikan porno, termasuk berbagai tayangan acara di TV yang semakin vulgar saja belakangan ini. Contoh lain dari faktor luar adalah adanya kesempatan yang dapat mendorong untuk melakukan hubungan seksual.
Faktor internal
Lalu, bagaimana dengan faktor internal? Seperti yang sering diungkapkan dalam Curhat ini, kita sebagai remaja tuh sedang mengalami masa yang disebut dengan "pubertas". Pada gilirannya, kita juga mengalami berbagai perubahan secara fisik, psikologis, dan sosial. Perubahan itu terjadi karena mulai aktifnya hormon seks dalam tubuh kita. Bagi yang cowok, hormon seksnya disebut testosteron, diproduksi secara terus-menerus oleh testis. Sedangkan hormon seks cewek adalah estrogen dan progesteron, diproduksi dalam ovarium secara bersiklus. Hormon seks inilah yang menimbulkan ciri seksual sekunder dan mengakibatkan timbulnya dorongan seksual dalam diri kita.
Hormon seks tersebut dapat sangat besar pengaruhnya dalam menimbulkan dorongan seksual karena hormon seksual itu baru saja aktif berfungsi secara optimal. Namun, pada sisi lain kadar hormon ini sering kali belum stabil. Karena itu, dorongan seksual ini sebenarnya tumbuh secara alami. Dari peristiwa inilah lalu mulai timbul perilaku seksual, yaitu tindakan atau perbuatan yang dilakukan yang didasari dengan dorongan seksual, antara lain untuk memuaskan hasrat seksual. Salah satu perilaku seksual tersebut yaitu berhubungan seks sebelum menikah.
Akan tetapi, apa pun alasannya, sebisa mungkin deh kita hindari hubungan seks sebelum menikah. Ada segambreng faktor yang menyebabkan kita tidak boleh melakukan hubungan seks sebelum menikah. Misalnya karena alasan agama, norma, budaya, bahkan alasan psikologis. Efek melakukan hubungan seks sebelum menikah itu berupa tekanan maupun gangguan yang bisa tidak saja kita alami, tetapi juga dialami oleh pasangan kita.
Akibat
Ada beberapa akibat yang bakal dirasakan bagi yang melakukan hubungan seks sebelum menikah. Misalnya, rasa bersalah maupun takut karena mendapatkan cemooh dari masyarakat ataupun hujatan dari keluarga, merasa melanggar norma agama, kehilangan keperawanan (bagi cewek), sanksi hukum jika itu melibatkan orang-orang yang di bawah umur, khawatir si cowok tidak mau menikahi atau bertanggung jawab.
Dengan berbagai perasaan salah dan takut seperti itu, bukan enggak mungkin nantinya bisa menjadikan diri kita tidak sehat sosial maupun psikologis. Apalagi jika yang bersangkutan kemudian hamil sebelum menikah, terpaksa menikah, atau malah melakukan pengguguran kandungannya. Semuanya itu tentu memiliki risiko.
Pengaruh negatif dari hubungan seks sebelum menikah itu tidak saja berhenti sampai sebelum menikah. Ketika akhirnya menikah pun, bukan enggak mungkin pengaruh tersebut akan terbawa-bawa. Sebut aja karena pengaruh trauma yang dialami cewek, kepuasan dalam hubungan seksual dengan suaminya jadi berkurang. Begitu pun dengan kemungkinan terjadinya perselingkuhan hubungan seksual di luar nikah dan sebagainya.
Seorang ahli pernah bilang bahwa hubungan seks sebelum menikah selalu membawa gangguan psikologis dan penyesalan yang berkepanjangan. Memang sih, rasa nyesal, kecewa, maupun akibat psikologis lainnya yang berkenaan dengan hubungan seks sebelum menikah ini kadang juga bisa sangat tergantung dari pandangan individu, bahkan juga kelompok sosialnya tentang hal tersebut. Misalnya, jika perilaku hubungan seks sebelum menikah itu mengakibatkan konflik terbuka dengan masyarakatnya, maka pengaruhnya dapat menjadi sangat serius. Seperti akan muncul gangguan psikologis seperti rasa malu, hina, putus asa, bahkan kadang sampai terjadi percobaan bunuh diri.
Nah, tekanan dan gangguan seperti yang disebut-sebut diatas ujung-ujungnya dapat menimbulkan gangguan fungsi seksual seperti impotensi, vaginismus, disparenia, frigiditas, anorgasmus, dan ejakulasi dini, yang bisa berlanjut sampai masa pernikahan.
Berikut beberapa gangguan seksual yang dapat dialami oleh cowok dan cewek, seperti disebutkan di atas.
Gangguan pada cowok:
Impotensi: Jika itu yang terjadi sebagai akibat dari faktor psikologis, maka gangguan itu muncul misalnya karena perasaan khawatir yang berlebih-lebihan, takut kalau ceweknya hamil, dan lain-lain.
Jika cowok mendapatkan ejakulasi sebelum terjadi atau beberapa detik setelah penetrasi, ini misalnya dapat terjadi karena rasa cemas akibat takut dosa atau ketahuan orang lain, dan lain-lain.
Gangguan pada Cewek:
Frigiditas: Kelainan yang mengakibatkan perempuan tidak atau kurang mempunyai gairah seksual. Ini misalnya bisa terjadi karena hubungan psikologis seperti cewek tidak senang dengan pasangan seksualnya, perasaan malu, takut atau perasaan bersalah, di samping bisa juga karena faktor organik.
Anorgasmus: Tidak tercapainya orgasme/kepuasan ketika berhubungan seks ini bisa terjadi misalnya cewek mengalami frigiditas, atau juga karena gangguan dan tekanan psikologis akibat hubungan seks sebelum menikah.
Vaginismus: Kejang dari 1/3 bagian bawah otot vagina. Ini bisa karena cewek memiliki pengalaman buruk pada hubungan seks sebelum nikah.
Disparenia: perasaan sakit yang timbul pada saat melakukan hubungan seksual.
Senin, 10 Desember 2007
Diposting oleh JaguRism_iNdraZone di 13.12
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

4 komentar:
Fucking Stupid... Sure about pre-marital sex? Yakin belum pernah melakukannya? Definisikan yang jelas sex pra nikah itu apa? Sex sendiri atau dengan orang lain? Haha! Saya yakin Fuckin Stupid pernah melakukan pre-marital sex... Hoooo!!!!!
Sex pra nikah? wow kayaknya boleh di coba tuch....he2x (kawin yes, nikah no). Isi boleh, tp kurang enak di bacanya bos, warna huruf ma background gak singkron. Keep d good job boyz. Tuk Jagad kapan kita hebreh bareng.....:)
ayo atuh posting lagi... Jgn males2an!!!!!!!!!!!!!
Masih tetap bertahan dengan 1 tulisan sementara temen-temen yang lain banyak mem-posting setiap hari? Ayo dong... Semangat! Begadang di warnet lagi kapan-kapan...
Posting Komentar